29 Agustus 2011

-Bersiap Menuju Kemenangan-


Satu hari menjelang Idul Fitri adalah hari tersibuk hahaha,,
mesti rebutan bangku sama pembeli lainnya di pasar, mesti ini, mesti itu, pokoknya sibuk deh (biar dibilang rajin neh ceritanya x_x), tapi itulah istimewanya hari raya, bertemu tetangga terdekat sampai yang terjauh, yah nyambung silaturahmi di pasar lah wakakakakak,,
membereskan pakaian yang harus dicuci dan disetrika secepatnya dan menata ulang kamar serta isi rumah kembali hihihi,, aku suka dengan segala kesibukan ini,,

Beda dengan dulu yang menjadikan hari ini beban berat, yah mungkin seiring berlalunya sang waktu, semakin bisa melihat sesuatu juga dari sudut pandang yang lain yah,,
Hari ini semua rumah harum bumbu masakan dengan rasanya masing2 walaupun sama saja, ketupat, semur daging, opor ayam, rendang, sayur godok (untuk yang satu ini aku kurang tau nama masakan yang aslinya apa :p).

Nah yang tadi aku sebutkan biasanya untuk kalangan ibu2 dan perempuan yang lebih dewasa, beda lagi dengan remaja2nya, biasanya mereka mempersiapkan diri untuk rutinitas tahunan yaitu merayakan kemenangan di malam takbiran dengan jalan2, mempersiapkan bedug dan teman2nya, ada juga yang mempercantik diri untuk pertemuan dengan teman2 juga pacar nanti malam,, uuuhhhh,, ramainya kotaku,,,
Remaja putri pun sudah menyusun angan2 indahnya untuk nanti malam, rebutan minta izin kepada sang ibu untuk pulang agak telat,,

Aku jadi ingat masa2 remajaku dulu, aku tak pernah seperti mereka, setiap malam takbiran, aku tidak bisa sebebas teman2ku lainnya, aku biasanya di rumah, membantu mimih bikin kue untuk lebaran dan dibawa ke kampung halamanku,,
yah, aku selalu terbiasa dengan rutinitas tahunanku yang satu itu, walaupun aku selalu ketinggalan cerita2 indah mereka keesokan harinya,,

Begitulah, saat ini aku menikmati betul setiap moment merayakan hari kemenangan, walaupun agak sedih karena tamu bulananku datang di saat akhir ramadhan nan indah ini, aku tidak bisa ikut sholat besok (sigh),,

Semua hal selalu menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku,,
saatnya membuka hati dan mempersiapkan diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi,
Semoga kita semua kembali kepada fitrah sebagaimana awal Allah menganugerahkan kita kehidupan di duniaNya,,, Amiin,,,

-Ryrie-

-Perempuan Itu-


Perempuan itu duduk di depan cermin di sudut kamarnya,
memandang wajahnya dan wajah orang2 yang dicintainya,
memandang seluruh kekuatannya

Perempuan itu menatap cermin dengan mata basahnya
yang kian lama menjadi isak tangis,
lalu ia menutup wajahnya dengan bantal hati berwarna coklat
agar suara tangisnya teredam
dan agar seisi rumah tak pernah tau segala laranya

Ia hanya mengucapkan "aku lelah Tuhan,, tolong aku,," sepanjang tangisnya,
aku ingin sekali memegang bahunya untuk memberitahunya bahwa aku selalu di sisinya,
namun aku tak kuasa, kubiarkan saja dia dengan dunianya sendiri di depan cermin itu

Sesekali dia terdiam, hanya menatap hampa ke cermin
matanya semakin membengkak, semakin menyiratkan duka
dan aku bukan batu yang tak tersentuh melihat itu, matakupun ikut basah,
lalu dia kembali menangis, tersedu,, lebih menyayat hatiku.

"Bunda, aku rindu, aku ingin dipeluk bunda, tak ada yang memelukku kini bunda untuk menawarkan segala rasaku"
kata2 itu terlerai dari bibirnya tetap dengan airmata yang berderaian,
tangisnya semakin menjadi2, sekuat tenaga ia tutupi wajahnya dengan bantal itu lagi
entah sudah berapa banyak airmata yang bantal itu tampung untuknya

Sampai akhirnya ia lelah menangis, lelah menatap cermin dan pantulan matanya,
ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia perempuan kuat,
ia berusaha meredam segala emosi yang bercampur,
menghapus jejak air mata di pipi bundarnya
dan ia menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya

yah, dia memang berhenti menangis, berhenti duduk di sudut itu,
dan memalingkan wajahnya dari sang cermin,
karena dia enggan memandang wajah kekalahannya,
kekalahan dari perang kehidupannya
kekalahan dari batinnya,,

dan aku tetap hanya bisa menatapnya, tanpa melakukan apapun, karena aku yakin dia akan mampu melewati semuanya
sampai tugasnya sebagai perempuan itu selesai,,,

-Ryrie-

28 Agustus 2011

-Beri Ruang Untuk Berkenalan-


"aku putus dengan pacarku karena dia menjawab pertanyaanku tentang kemana hubungan ini akan dibawa hanya dengan kalimat jalani saja" begitu katanya
lalu aku bilang
"ya sudah mba, lupakan saja, jangan sia2kan waktu mba untuk hal2 yang tidak jelas karena hanya akan membuang2 waktu saja"

dan setelah itu perbincangan kami melebar ke seseorang yang sedang mendekatinya,,

dia bilang :
"aku memang sakit sekarang tapi itu lebih baik daripada selalu kecewa yang tak ada ujungnya, lagipula sekarang sedang ada yang mendekatiku, dia menceramahi aku layaknya dosen, mengajakku ta'aruf karena dia menginginkan aku"
"tapi, aku kayaknya kurang sreg sama dia" tambahnya lagi
kataku "kenapa begitu mba?"
dia bilang "dia gendut, kepalanya botak :(, fisik banget yah aku?"
"iya, kenali dia dulu mba, jangan bebani hati dan diri mba dengan apa yang akan orang lain katakan" itu yang kuucapkan padanya
"Iya itu sebenarnya yang di bebani, kamu tau aja aku jd malu" katanya
"jangan begitu mba, karena hal itu bisa membutakan mata dan telinga hatimu" begitu kataku menambahkan

Hmm,, memangnya apa yang salah dengan botak dan gendut? dia pun makhluk Tuhan dan bahkan mungkin bisa jauh lebih baik dibanding seseorang dengan badan proporsional dengan rambut klimisnya,,
Yah akupun tidak menutup mata bahwa penampilan luar seseorang itu penting karena hal pertama yang kita pandang sebelum mengenalnya adalah fisiknya, tapi fisik akan jadi nomor kesekian bila kita sudah mengetahui siapa dia yang sesungguhnya, melalui proses apapun.

Ukuran fisik seseorang bisa membutakan mata hati dan menulikan telinga hati, mengapa? karena bila hanya ukuran itu, kita hanya akan melihat dan mendengarkan pendapat orang lain, yang belum tentu hal itu yang kita butuhkan untuk membangun sebuah rumah masa depan, toh fisik pasti akan berubah seiring waktu, dia akan menua dan tak akan sama lagi seperti pertama kita mengenalnya,,

Saran saya, buka dulu hatimu, beri dia ruang, beri dia kesempatan untuk memperkenalkan diri dan hatinya kepadamu, mendengarkan pendapat orang lainpun boleh namun jangan jadikan itu pegangan, karena mereka hanya melihat kamu menjalani semuanya, bukan ikut menjalani hubungan itu.
Jadi bersikap bijaklah dalam memandang segala hal dan mengambil setiap keputusan.
Jangan hanya mengedarkan pandangan hanya di sisi luar saja, pandanglah dia dari segala sisi dia hidup dan berdiri.
Hidup itu di tanganmu,, ;)


-Ryrie-


*Note : Moga sukses yaa mba cantik,, :-* semangaaadddddd,,,,